:: WELCOME IN MY WORLD ^_^ FEEL HIS BLESS IN YOUR SOUL.....::

Friday, March 19, 2010

Buang sampah yuk

ika Anda hidup dirumah yang sampahnya tidak pernah dibuang dan ruangan-ruangannya tidak pernah dibersihkan, tentu Anda tidak tahan berada disana lama-lama bukan? Anda akan senang tinggal di rumah yang bersih, dan tempat sampahnya dikosongkan tiap hari. Anda tidak akan mencium bau busuk, maupun sakit karena berbagai bakteri yang tersebar karena sampah. Untuk itu, Anda harus rajin bersih-bersih dan membuang sampah yang ada di tong sampah.

Hal yang sama harusnya berlaku dengan kehidupan pribadi kita. Seringkali kita mengumpulkan sampah emosional. Sebagai contoh: kita sering menyimpan sakit hati pada orang lain atau Anda menyimpan rasa kecewa pada orangtua Anda atau pasangan Anda. Merasa terluka, kecewa dan putus asa karena gagal dalam karir atau bisnis dan tidak pernah bangkit kembali, itu juga sampah bagi jiwa Anda.

Sakit hati, kecewa, iri hati, kemarahan, dan ribuan perasaan negatif lainnya adalah sampah bagi kehidupan. Anda harus membuangnya dengan segera jika ingin hidup sehat dan bahagia. Anda harus rajin bersih-bersih, sama seperti membersihkan rumah Anda. Jangan biarkan sampah berlama-lama dalam hidup Anda. Bagaimana caranya? Berikut ini adalah langkah-langkah praktisnya.

Berdoa. Ketika kita mempercayakan hidup kita pada Tuhan, kita akan menyadari betapa kecilnya masalah kita dibandingkan kebesaran Tuhan. Dengan berdoa dan menyerahkan kemarahan, kekecewaan, iri hati dan semua sampah kehidupan kepada Tuhan, maka Anda akan memiliki pandangan baru dalam kehidupan. Mintalah kekuatan, kasih dan pengampunan untuk menyapu setiap sampah-sampah tersebut.
Ampuni orang yang menyakiti Anda. Temuilah orang tersebut, sampaikan bagaimana perasaan Anda dan katakan bahwa Anda telah mengampuninya.
Olahraga. Dengan cara ini Anda membuat kardiovaskular Anda bekerja. Ini akan membantu Anda menyingkirkan semua sampah emosional melalui pori-pori Anda.
Mencari saran dari seseorang yang tidak memihak dan mampu memberikan nasihat yang baik.
Hari ini jika Anda mencium ada bau busuk sampah dalah kehidupan Anda, segera bersihkan dan buang sampah-sampah tersebut.

Sumber: Jawaban.com


======================================

Memang bagi kita manusia, ‘mengampuni’ adalah sesuatu yang tidak mudah, dan karenanya kita perlu memohon kekuatan dari Tuhan. Sebenarnya, Tuhan Yesus tidak mengajarkan bahwa orang yang bersalah kepada kita itu harus minta maaf terlebih dahulu baru kemudian ‘layak’ kita ampuni. Berikut ini adalah beberapa ayat Alkitab yang menunjukkan bahwa kita harus mengampuni tanpa syarat, seperti yang diajarkan oleh Tuhan:

1) Dalam doa Bapa Kami, kita setiap kali berdoa, “Ampunilah kesalahan kami seperti kamipun mengampuni yang bersalah kepada kami…” (Mat 6: 12) . Di sini tidak dikatakan “asalkan mereka minta maaf kepada kami”. Jadi sesungguhnya apapun yang terjadi, Tuhan menghendaki agar kita mengampuni orang yang bersalah pada kita- tanpa ada syarat apa-apa lagi.

2) Pada khotbah-Nya di bukit, Yesus berkata, “Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.” (Mt 5:44) Di sini tidak dikatakan apakah musuh itu harus minta maaf atau menyesal dahulu, baru kita ampuni/ kasihi. Makna “kasihilah” di sini adalah sesuatu yang lebih dalam daripada mengampuni, karena mengampuni saja sudah sulit, apalagi mengasihi dan mendoakan mereka.

3) Yesus memberikan sendiri contoh yang sempurna terhadap pengajaran-Nya ini dengan menyerahkan Diri-Nya di kayu salib. Pada saat Ia tergantung di salib, ketika tangan-Nya terentang antara langit dan bumi, Ia berkata,“Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat ” (Luk 23: 34). Dalam kesatuan-Nya dengan Allah Bapa, Yesus mengampuni mereka yang telah menyalibkan Dia, walaupun pada saat itu mereka tidak bertobat atau minta ampun pada Yesus.

4) Rasul Paulus mengatakan, “Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita ketika kita masih berdosa.” (Rom 5:8). Jadi Kristus memilih untuk wafat di salib untuk menebus dosa-dosa kita manusia, meskipun pada waktu itu manusia belum bertobat. Dan kasih Allah yang besar inilah yang sesungguhnya malah mengantar kita kepada pertobatan.

5) Sebenarnya kita mengampuni bukanlah melulu demi orang yang bersalah kepada kita, seolah-olah jika kita mengampuni maka ‘dia yang untung dan kita yang rugi’. Sebaliknya, jika kita mengampuni sesungguhnya itu adalah untuk kebaikan kita sendiri, karena dengan kita mengampuni, kita dibenarkan oleh Tuhan karena kita mengikuti teladan-Nya dan kita menjauhkan dari diri kita segala bentuk sakit penyakit badani dan rohani yang berkaitan dengan kekecewaan, kesesakan, kepahitan dan sakit hati yang terpendam. Kitab Mazmur mengatakan, “Kasihanilah aku ya, Tuhan, sebab aku merasa sesak; karena sakit hati mengidaplah mataku, meranalah jiwa dan tubuhku. Sebab hidupku habis dalam duka dan tahun-tahun umurku dalam keluh kesah; kekuatanku merosot karena sengsaraku, dan tulang-tulangku menjadi lemah…” (Mz 31: 10-11). Tentulah karena Tuhan mengasihi kita, maka Ia ingin agar kita belajar mengampuni, agar kita tidak menyimpan sakit hati yang dapat mendatangkan hal-hal negatif terhadap diri kita sendiri, baik rohani maupun jasmani.

Contoh yang paling indah saya rasa adalah bagaimana Bapa Paus Yohanes Paulus II yang mengampuni Mehmet Ali Agca, yang telah berusaha membunuhnya, dengan menembaknya pada tgl 13 mei 1981. Begitu Bapa Paus sembuh, beliau mengunjungi Ali di penjara, dan menyatakan bahwa beliau mengampuni Ali, walaupun setahu saya, tidak didahului oleh permintaan maaf dari Ali. Entah bagaimana jika kita yang ada di posisi Bapa Paus, sanggupkah kita mengampuni orang yang telah berusaha membunuh kita?

Memang, mengampuni bukan sesuatu yang mudah, namun itu adalah pengajaran Tuhan yang tak bisa ditawar. Maka kita semua memang harus berusaha untuk melakukannya, tentu dengan bantuan rahmat Tuhan. Jika kita dizinkan Tuhan untuk mengalami pengalaman disakiti oleh orang lain, maka kita diberi kesempatan oleh-Nya untuk merasakan sedikit dari penderitaan-Nya di kayu salib. Dan untuk itu, obat yang paling mujarab adalah: kita kembali mempersembahkan rasa sakit hati/ hati yang hancur kita di hadapan Tuhan (lih. Mzm 51:19), dan mempersatukannya dengan korban Yesus dalam Ekaristi Kudus, agar kita memperoleh buah-buahnya, yaitu dosa kita diampuni, sakit hati kita disembuhkan, dan kita diberi kekuatan oleh Tuhan untuk mengampuni, dengan kekuatan yang bukan berasal dari diri kita sendiri, tetapi dari Tuhan. Dengan pertolongan rahmat Tuhan, maka kita akan dapat mengampuni sesama yang bersalah pada kita, walaupun yang bersangkutan tidak minta maaf pada kita. Hal ini dapat terjadi sekaligus, ataupun merupakan perjuangan yang bertahap, namun kita harus terus mengusahakannya, sebab inilah yang dikehendaki oleh Tuhan bagi kita, “Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi.” (Yoh 13:35)

Sumber: Katolisitas.org

No comments:

Post a Comment